Inilah 7 Daftar Nama Raja Banten Yang Paling Terkenal

Di bagian ini menyediakan wadah kepada pengguna untuk beriklan atau menawarkan sesuatu. Beriklan atau menawarkan sesuatu di luar topik SELAIN di bagian ini akan menyebabkan akun anda kena peringatan dan di non aktifkan.
Kirim Balasan
ekanovi
Sesepuh
Sesepuh
Postingan: 568
Bergabung: Kam, 25 Nov 2021 10:23 pm
Nama Lengkap: Eka Novi Anggraini
OPD/SKPD: Bagian Umum

Inilah 7 Daftar Nama Raja Banten Yang Paling Terkenal

Postingan oleh ekanovi »

Kerajaan Banten terletak di Provinsi Banten yang lokasinya berada di ujung barat pulau Jawa. Lantas siapa saja raja-raja yang pernah memerintah Banten? Saat menelusuri sumber-sumber sejarah Banten, kami menemukan berbagai versi tentang raja-raja yang pernah memerintah Banten.

Berikut ini kami hanya akan membagikan 7 raja yang pernah memerintah kerajaan Banten beserta beberapa kisahnya.

1. Fatahilah

Fatahilah adalah seorang musafir Tionghoa yang dahulu bernama Faletehan. Ia memperdalam ajaran Islam di kerajaan Demak. Wilayah Banten pertama kali dikuasai Fatahillah kemudian dipindahkan ke Cirebon akibat meninggalnya putra penguasa Cirebon, Pangeran Pasarean.

Kerajaan Banten diberikan kepada putra Fatahillah lainnya yaitu Sultan Hasanudin. Fatahillah terus menganiaya Islam dan mundur ke Gunung Jati.

Ia menjadi perawi Islam dan menyandang gelar Sunan. Fatahillah meninggal lebih lambat dari Sunan Gunung Jati. Cara melakukannya selengkapnya baca di artikel Kisah Faletehan, Sang Sunan Gunungjati

2. Sultan Hasanudin

Sultan Hasanudin adalah raja pertama Kerajaan Banten. Pertarungan berlangsung sangat sengit. Pada tahun 1568, Sultan Hasanudin lepas dari kekuasaan Kerajaan Demak.

Saat itu terjadi perebutan kekuasaan di Demak sepeninggal Sultan Trenggono. Wilayah Kerajaan Banten meluas hingga Lampung. Banten menjadi pusat penjualan dan perdagangan lada. Sultan Hasanudin meninggal pada tahun 1570.

3. Syekh Maulana Yusuf

Ia adalah putra Sultan Hasanudin. Ketika menjadi raja ia dikenal sebagai Panembahan Yusuf.

4. Maulana Muhammad

Maulana Muhammad adalah penerus Panembahan Yusuf. Kemudian menjadi raja dengan gelar Kanjeng Ratu Banten. Maulana Muhammad memperluas Kerajaan Banten dengan menyerang Palembang.

Menurut cerita penyerbuan ke Palembang dipimpin oleh Ki Gede Ing Suro. Ki Gede Ing Suro adalah seorang penyiar Islam keturunan Surabaya yang berhasil meletakkan dasar-dasar Islam di Palembang. Dalam pertempuran ini Sultan Banten meninggal.

5. Abdulmufakhir

Abdulmufakhir menggantikan almarhum Maulana Muhammad. Namun sejak muda ia sudah didampingi oleh Pangeran Ranamenggala sebagai Mangkubumi. Pangeran Ranamenggala menguasai pemerintahan dari tahun 1608 sampai 1624.

Di bawah pemerintahan raja, kerajaan Banten menjadi pusat perdagangan lada dan cengkeh. Cournelis de Houtman, seorang saudagar Belanda, berkunjung ke Banten pada 22 Juni 1596. Untuk lebih lengkapnya silahkan baca artikel sejarah kedatangan Belanda di Banten pada tahun 1596.

6. Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa merupakan raja Banten yang memerintah dari tahun 1651 sampai 1692. Saat itu Banten sedang booming. Produk pertanian yang kaya. Jangkauan agama Islam berkembang pesat dengan dukungan ulama terkemuka seperti Syekh Yusuf dari Sulawesi.

Kerajaan Banten memiliki hubungan baik dengan negara lain seperti Turki dan Mughal. Meski demikian, Sultan Ageng Tirtayasa tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

7. Sultan Abdulnasar Abdul-Kahar

Sultan Abdulnasar Abdul-Kahar adalah Wakil Raja Sultan Ageng Tirtayasa. Sikap kerajaan ini tetap tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

Namun di Banten, kekuasaan Belanda semakin meningkat. Akibatnya, kerajaan Banten runtuh.

Peninggalan Kerajaan Banten antara lain adalah Masjid Agung Banten dan meriam "Ki Amuk".

Selain itu, masih banyak peninggalan Kerajaan Banten lainnya yang bisa Anda lihat di Mengulik Banten yang merupakan situs yang membahas tentang berbagai macam sejarah kerajaan dan juga peninggalan kerajaan.

Ini adalah gambaran tentang tujuh raja yang pernah memerintah Banten, beserta wawasan tentang kisah mereka. Semoga menjadi dokumen sejarah yang bermanfaat bagi sejarah nasional nusantara.



Kirim Balasan